Pangkalpinang, Senin (6/10/2025) — Ribuan massa dari berbagai penjuru Bangka Belitung memadati halaman Kantor Pusat PT Timah Tbk di Pangkalpinang. Sejak pagi, arus manusia berbondong-bondong datang — membawa spanduk, bendera, dan semangat perlawanan terhadap ketimpangan tambang yang menahun.
Di tengah gemuruh suara rakyat, orasi lantang Batara, tokoh yang dikenal gigih membela penambang kecil, mengguncang udara. Ia menyerukan kebangkitan rakyat atas tanah mereka sendiri.
> “Bangka Belitung bukan milik korporasi! Ini tanah rakyat berdaulat! Hari ini kita buktikan — rakyat tak lagi tunduk! PT Timah wajib beli hasil tambang rakyat dengan harga layak, Rp300 ribu per SN, dan rakyat bebas menambang di wilayah IUP PT Timah!”
— pekik Batara disambut teriakan dan tepuk tangan gemuruh ribuan massa. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa. Ia menjelma jadi gerakan moral rakyat — dari Lubuk Besar hingga Jebus, dari Koba, Penyak, Sungailiat, Belinyu, hingga Mentok. Barisan massa datang dari seluruh pelosok Pulau Bangka, menempuh perjalanan jauh hanya untuk satu kata: keadilan.
Warga desa yang hidup dari tambang rakyat selama ini merasa terpinggirkan. Mereka menilai sistem tambang hanya menguntungkan segelintir korporasi besar, sementara rakyat lokal — pemilik sah tanah dan sumber daya — justru terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
> “Kami hanya ingin hidup layak. Tanah ini punya kami, tapi kami malah dilarang menambang. Sementara perusahaan besar bebas meraup untung,” teriak salah satu warga di tengah lautan manusia.
Sekitar pukul 11.00 WIB, situasi makin memanas. Ribuan massa mulai merangsek ke pagar kantor PT Timah. Aparat Polda Kepulauan Bangka Belitung yang berjaga ketat sempat melepaskan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Namun, semangat massa tak padam — mereka bertahan, meneriakkan yel-yel “Rakyat Berdaulat, Timah untuk Kita Semua!”
Aksi ini memunculkan gelombang baru kesadaran: bahwa Bangka Belitung tak bisa terus-menerus menjadi ladang eksploitasi bagi segelintir pihak. Rakyat menuntut perubahan mendasar — pembelian timah rakyat secara adil, pengakuan wilayah tambang rakyat, dan penghentian monopoli korporasi.
“Ini bukan sekadar soal harga timah, ini soal martabat! Selama ini rakyat hanya jadi penonton di tanah sendiri. Hari ini kita rebut kembali kedaulatan ekonomi kita!” — tegas Batara di akhir orasi.
n
Aksi bersejarah ini menandai babak baru perjuangan tambang rakyat Bangka Belitung. Di tengah kabut gas air mata, satu hal makin jelas: suara rakyat tak bisa lagi dibungkam.
SikatHabisNews : ✍️ Mega Lestari









