TAKALAR — Kekecewaan mendalam dirasakan sejumlah tokoh masyarakat Desa Punaga, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, usai pertemuan yang telah dijadwalkan dengan Bupati Takalar H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, mendadak dibatalkan.
Padahal, sebelum terpilih sebagai bupati, Daeng Manye sempat melontarkan janji manis di masa kampanye, membuka pintu rumah jabatan (Rujab) selebar-lebarnya bagi masyarakat Takalar sebagai wadah silaturahmi dan penyampaian aspirasi.
Bahkan mereka hanya menunggu di posko Satpol PP. Tidak diarahkan masuk di Rumah Jabatan Bupati Takalar.
Namun, realita pasca-pelantikan justru berbanding terbalik. Beberapa tokoh masyarakat mengaku sangat sulit untuk sekadar bertatap muka dengan orang nomor satu di Takalar tersebut, termasuk ketika agenda pertemuan sudah ditetapkan.
Seperti yang dialami para tokoh dari Desa Punaga. Mereka rela menempuh perjalanan panjang menuju kota Takalar demi memenuhi undangan pertemuan selepas salat Magrib di rumah jabatan bupati, Kamis (11/09/2025).
Namun sesampainya di lokasi, mereka justru mendapatkan kabar mengecewakan, pertemuan dibatalkan sepihak karena Bupati disebut memiliki agenda lain di Makassar.
“Kami sangat kecewa. Sudah jauh-jauh datang ke Takalar, bahkan sudah sampai di sekitar Rujab, tapi tiba-tiba batal tanpa kejelasan. Padahal ini undangan resmi,” ujar Jafaruddin Daeng Beta ke media, salah satu tokoh masyarakat yang hadir.
Jafaruddin, yang akrab disapa Ombet, menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan tanpa tujuan. Mereka ingin menyampaikan sejumlah aspirasi penting warga, termasuk persoalan infrastruktur jalan di Desa Punaga yang tak kunjung diperbaiki sejak masa kampanye.
“Kami hanya ingin mengingatkan kembali janji-janji politik saat Pilkada, terutama soal jalan desa kami yang seperti kubangan saat musim hujan. Tapi yang kami dapat justru kekecewaan,” lanjutnya.
Kekecewaan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: Apakah janji-janji kampanye hanya sekadar pemanis saat pemilu? Ataukah komunikasi antara pemerintah dan masyarakat kini mulai tersumbat?
Masyarakat berharap Bupati Takalar dapat kembali membuka ruang dialog, bukan hanya di masa kampanye, tetapi juga saat menjalankan amanah sebagai pemimpin daerah. Aspirasi warga adalah bagian penting dari pembangunan dan sudah sepatutnya tidak diabaikan begitu saja.(*)







