Jakarta : Kerusuhan yang mewarnai aksi demonstrasi baru-baru ini kembali meninggalkan duka di tengah masyarakat. Dua pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban dalam peristiwa yang semestinya tidak perlu terjadi. Mereka bukan bagian dari kelompok yang berselisih, namun tetap menjadi pihak yang merasakan dampak langsung dari konflik horizontal yang kian memanas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Peristiwa ini mengetuk nurani bangsa: ketika warga sipil tak berdosa menjadi korban, negara harus segera hadir, tidak hanya dengan retorika, tetapi melalui kebijakan nyata dan tindakan yang tegas serta adil. Dr. Iswadi, alumni Program Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta sekaligus Ketua Umum Solidaritas Pemersatu Bangsa Indonesia (SPBI), menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap situasi ini.

Dalam pernyataannya, Dr. Iswadi menegaskan pentingnya peran kepemimpinan nasional, khususnya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, untuk mengambil langkah langkah tegas dan terukur demi menjaga keamanan nasional dan mencegah kerusuhan serupa kembali terjadi.

Dengan segenap jiwa dan raga, marilah kita jaga Ibu Pertiwi agar tetap damai, bersatu, dan bermartabat. Di tengah derasnya arus informasi dan derasnya opini yang sengaja dibentuk untuk memecah belah, kita sebagai anak bangsa harus tetap waspada. Jangan terprovokasi oleh isu-isu murahan yang hanya bertujuan memancing emosi dan memecah belah persatuan,” tegasnya.

Dr. Iswadi juga mengingatkan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang mungkin memiliki kepentingan untuk melemahkan fondasi bangsa. Ia mengingatkan bahwa narasi Indonesia akan bubar di tahun 2030 bukan hanya isapan jempol, melainkan bagian dari kampanye global yang ingin melihat bangsa ini goyah. Namun, menurutnya, kita tidak akan membiarkan itu terjadi.
Indonesia telah melewati banyak ujian dari penjajahan, krisis ekonomi, hingga bencana alam. Namun, setiap kali kita bangkit lebih kuat. Kekuatan terbesar bangsa ini adalah persatuannya,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa perbedaan pandangan politik, sosial, atau budaya tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan. Sebaliknya, keberagaman harus dirawat sebagai anugerah yang memperkaya dan memperkuat bangsa. Dalam konteks kerusuhan yang menimbulkan korban, terutama dari kalangan pekerja informal seperti pengemudi ojol, negara memiliki kewajiban untuk turun tangan secara bijak namun tegas.

Dr. Iswadi menyerukan agar Presiden Prabowo hadir dengan kepemimpinan yang strategis, tegas, dan solutif. Dalam menghadapi potensi kerawanan sosial, tindakan yang adil dan proporsional harus menjadi prioritas, tanpa mengabaikan hak-hak konstitusional masyarakat dalam menyampaikan aspirasi.

Menurutnya, aparat keamanan perlu terus meningkatkan profesionalisme dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam menjalankan tugas. Sementara itu, masyarakat sipil juga diminta untuk menggunakan hak demokrasi dengan cara-cara yang bermartabat dan damai, bukan dengan kekerasan yang justru merusak wajah demokrasi itu sendiri.

Sekarang adalah waktunya untuk mempererat kembali tali persaudaraan, memperkuat semangat kebangsaan, dan membangun negeri ini dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Mari bersama kita dorong Indonesia menjadi negara maju, terdepan di ASEAN, dan dihormati di mata dunia,” ujarnya penuh semangat.

Sebagai penutup, Dr. Iswadi menyampaikan optimisme bahwa bangsa ini akan tetap kokoh berdiri menghadapi segala tantangan yang ada. Selama seluruh elemen bangsa menjaga persatuan dan tidak mudah diadu domba oleh provokasi yang memecah belah, Indonesia akan mampu terus tumbuh dan berkembang menjadi negara besar yang disegani dunia.

Insya Allah, dengan persatuan dan doa, Indonesia akan tetap tegak berdiri” tutup Akademisi berdarah Aceh tersebut