Kita berharap menjadi tanah yang subur tanah yang mampu memberikan pertumbuhan bagi benih sabda Tuhan. RD. Stefanus Si.
Oleh: Angginak Sepi Wanimbo
Papua tidak pernah membesarkan manusia dengan kata – kata. Ia mendidik melalui alam yang terbentang luas, melalui tanah yang harus dipijak dengan hormat, dan melalui waktu yang menanamkan kesabaran. Bagi orang asli Papua, tanah bukan sekadar ruang hidup, melainkan ibu yang memberia makan, melindungi, dan menegur ketika keseimbangan dilanggar. Dari tanah inilah manusia belajar mengenali asal – usulnya, memahami posisinya dalam kehidupan, dan menyadari ke mana kelak ia akan kembali.
Tanah Papua menyimpan lebih dari sekadar kekayaan alam. Di dalamnya tersimpan nilai, aturan hidup dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukti, danau, hutan, dan sungai bukan hanya benteng geografis, melainkan penanda sejarah dan identitas alam tidak diperlakukan sebagai objek yang harus ditaklukan, tetapi sebagai subyek kehidupan yang diajak hidup berdampingan.
Relasi antara manusia dan alam terbangun atas dasar saling menjaga. Alam memberi kehidupan, manusia bertanggung jawab merawatnya. Dalam keseharian masyarakat Papua, prinsip ini hadir dalam praktik sederhana namun konsisten. Cara membuka kebun, mengambil hasil hutan hingga menjalankan ritual adat selalu mempertimbangkan keseimbangan. Hidup tidak dijalani dengan tergesa – gesa melainkan mengikuti ritmen alam.
Di lingkungan seperti inilah orang asli Papua tumbuh dibesarkan oleh alam yang keras sekaligus penuh kasih, oleh tradisi yang tidak banyak bicara namun kaya makna. Sebelum mengenal pendidikan formal, Ia telah lebih dahulu belajar tentang kehidupan melalui tanah yang dipijaknya, air yang diminumnya dan hutan yang menaunginya. Nilai – nilai tersebut tertanam kuat dan kelak membentuk cara pandangan tentang tanah dan budaya arti sebuah perjuangan.
Akar kehidupan yang membumi, hubungan yang intim dengan alam, serta kesederhanaan yang dijalani sehari – hari menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup sebagai orang asli Papua. Dari sanalah tumbuh kesadaran bahwa tanah dan budaya bukan sekedar warisan masa lalu, melainkan napas yang menjaga keberlanjutan hidup hari ini dan masa depan. Titus Pekei, Titus Pekei dan Napas Perjuangan Noken Papua. Hal. 1 – 2 Tahun 2026.
Tanah merupakan ibu/mama yang membesarkan manusia sehingga manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga, merawat, memelihara, dan mengelola hasilnya mencukupi kebutuhan ekonomi dalam rumah tangah keluarga, mendukung program pelayanan gereja, membiayai anak sekolah demi masa depan gereja dan bangsa di tanah Papua.
Tanah dan hutan sebagai napas kehidupan bagi manusia, karena orang mempunyai tanah dan hutan merekalah mempunyai segala – galanya sebab di dalam tanah ada ubi besar, sayur – mayur yang segar, buah – buahan, pohon – pohon dan kekayaan alam lainnya ada disana Tuhan siapkan untuk mengelola dan menikmati hasilnya oleh orang Papua.
Orang asli Papua bisa hidup tanpa uang tetapi tidak bisa hidup tanpa tanah, oleh karena itu membudayakan merawat tanah dan hutan dengan sehat demi masa depan anak dan cucu sebab manusia dapat dibesarkan oleh tanah dan hutan.
Bagi penduduk asli Papua, yang membiasakan menjual tanah dan hutan kepada orang lain Anda sedang menciptakan kemiskinan panjang bagi keluarga, dan anak cucu hidup akan bergantung kepada orang lain atas kehilangan tanah dan hutan.
Manusia boleh beranak cucu tetapi tanah dan hutan tidak bisa meranak cucu sehingga orang asli Papua jangan santai – santai, biasa – biasa tetapi bangkit bersatu, sepikir selamatkan sesama manusia dan selamatkan tanah dan hutan Papua.
Pentingnya tanah karena rumah besar dibangun diatas tanah, hotel berlantai dibangun diatas tanah, kantor besar dibangun diatas tanah, pesawat terbang parkir diatah tanah, mobil, motor berjalan dan parkir diatas tanah, manusia tidur diatas tanah, manusia berjalan diatas tanah dan manusia dapat dibesarkan oleh tanah melalui kekayaan yang Tuhan sudah siapkan.
Hari ini setiap orang menjadi kepala Kampung, Lurah, Camat, Bupati, Gubermur, Presiden, MRP, DPRD, DPRP, DPR – RI, Akademisi, Musisi, Pengusaha, Petani, Pimpinan Gereja, TNI/Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN) Dokter, Perawat, LSM, Politisi, dan lainnya yang penulis tidak sebut satu persatu semua dibesarkan melalui hasil olahan tanah sebab itu berbagai komponen, profesi yang sedang bekerja diatas tanah ini merawat tanah sebagai mama yang melahirkan, membesarkan manusia.
Bagi bapa dan ibu ingin mengetahui tentang pentingnya tanah untuk masa depan generasi emas Papua. Silahkan memiliki buku karangan Angginak Sepi Wanimbo, berjudul. Tanah kami masa depan kami. Ada di Toko buku Allah Ninom Wamena. Cafe, Kopi Lani Mendek, Wamena. Kedai Kopi Tiom Lanny Jaya.
Selamatkan tanah dan hutan Papua, berarti anda selamatkan manusia Papua. Anda tidak selamatkan tanah dan hutan Papua berarti anda tidak selamatkan manusia Papua.
Selamat membaca bagi sahabat – sahabat yang baik Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.
TiEyom, 23 Juni 2026
Penulis: Pegiat Literasi Papua Pegunungan.
Editor : Maleaki Tipagau










