Jakarta : Pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan merupakan upaya sadar untuk memanusiakan manusia. Pandangan inilah yang menjadi titik tolak pemikiran Dr. Iswadi, seorang pendidik profesional yang menaruh perhatian besar terhadap pentingnya membangun sistem pembelajaran yang adil, humanis, dan membebaskan. Dalam refleksinya, Dr. Iswadi menegaskan bahwa pendidik sejati bukan hanya pengajar, tetapi juga pembebas.pembebas dari kebodohan, ketimpangan, dan ketidakadilan dalam dunia pendidikan.
Menurut Dr. Iswadi, dunia pendidikan kita masih sering terjebak dalam paradigma lama: guru sebagai pusat pengetahuan, dan siswa sebagai penerima pasif. Pola seperti ini menciptakan relasi hierarkis yang mengekang daya kritis siswa. Ia mengingatkan bahwa pendidikan yang membebaskan tidak akan lahir dari sistem yang menempatkan murid sekadar sebagai objek pembelajaran. Sebaliknya, murid harus diakui sebagai subjek yang memiliki potensi, pengalaman, dan cara berpikir yang patut dihargai. Di sinilah pentingnya membangun relasi dialogis antara guru dan peserta didik.
Bagi Dr. Iswadi, pembelajaran yang berkeadilan berarti memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya. Keadilan dalam pendidikan tidak selalu berarti perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang setara dan kontekstual. Seorang pendidik perlu memahami latar belakang sosial, budaya, ekonomi, bahkan emosional peserta didik agar pembelajaran tidak bersifat seragam dan diskriminatif. Guru harus menjadi fasilitator yang peka terhadap keragaman, bukan sekadar pelaksana kurikulum.
Pemikiran ini sejalan dengan perkembangan digital yang kini digaungkan secara nasional. Namun, Dr. Iswadi menekankan bahwa kemerdekaan belajar tidak cukup hanya menjadi jargon kebijakan. Ia harus diwujudkan melalui perubahan paradigma guru dalam memandang profesinya. Guru yang profesional, dalam pandangan Dr. Iswadi, bukanlah mereka yang hanya menguasai materi dan metode, tetapi mereka yang memiliki kesadaran reflektif kemampuan untuk terus menilai, mengkritisi, dan memperbaiki praktik pembelajaran yang dilakukannya. Refleksi menjadi jalan bagi guru untuk memahami kembali makna sejati mengajar: membantu siswa menemukan kebebasannya sendiri.
Dalam refleksinya, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya nilai nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Pembelajaran yang membebaskan tidak akan berarti jika terlepas dari dimensi moral dan spiritual. Guru harus mampu menumbuhkan empati, rasa hormat, dan keadilan sosial di dalam kelas. Pendidikan sejati, menurutnya, bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menumbuhkan karakter dan kesadaran sosial. Di sinilah peran guru sebagai agen perubahan menjadi nyata bukan hanya mengajarkan, tetapi menyalakan semangat untuk menjadi manusia yang utuh.
Perjalanan menuju pembelajaran yang adil dan membebaskan tentu bukan hal yang mudah. Dr. Iswadi mengakui bahwa sistem pendidikan masih dihadapkan pada banyak tantangan: ketimpangan fasilitas, tekanan kurikulum, beban administrasi, dan budaya birokratis yang membatasi kreativitas guru. Namun, ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil: kesadaran individu pendidik. Guru yang reflektif dan berpikir kritis akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang terbuka dan inklusif, sekalipun berada dalam sistem yang belum ideal.
Dalam berbagai kesempatan, Dr. Iswadi mengajak para pendidik untuk berani keluar dari zona nyaman. Mengajar bukan rutinitas, melainkan panggilan jiwa. Guru yang berani berinovasi dan membuka ruang dialog dengan siswa sedang membangun jembatan menuju pendidikan yang membebaskan. Ia menegaskan bahwa pembelajaran yang bermakna hanya akan tumbuh ketika guru dan siswa sama-sama menjadi pembelajar saling belajar, saling mendengarkan, dan saling menghargai.
Pemikiran Dr. Iswadi mengingatkan kita bahwa menjadi pendidik profesional berarti menjalani perjalanan panjang menuju kemanusiaan. Jalan ini tidak selalu mudah, penuh tantangan dan keraguan. Namun, justru di situlah letak keindahannya: guru sejati tumbuh melalui proses refleksi dan perjuangan. Dengan kesadaran reflektif, keadilan sosial, dan semangat pembebasan, pendidikan akan kembali ke hakikatnya membentuk manusia yang merdeka, berdaya, dan berkeadilan.
Akhirnya, refleksi Dr. Iswadi bukan hanya catatan pribadi seorang pendidik, melainkan seruan moral bagi seluruh insan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa tugas guru bukan hanya mengajar demi nilai, tetapi mendidik demi kemanusiaan. Dalam setiap kelas, setiap dialog, dan setiap proses belajar, guru memiliki kesempatan untuk menanamkan benih keadilan dan kebebasan berpikir. Itulah esensi dari jalan panjang yang ia maksud jalan menuju pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membebaskan jiwa.







